Blue Lagoon, Merasakan Kembali Segarnya Berenang di Sungai
Berenang di kolam renang apalagi kolam renang hotel atau waterboom memang masih menjadi tren
dikalangan anak jaman now. Akan
tetapi, semenjak boomingnya media
sosial, atraksi-atraksi wisata tirta yang sifatnya alami kembali naik daun.
Sebut saja berbagai macam umbul di Klaten dengan Umbul Ponggok sebagai top list-nya, atau Blue Lagoon di Sleman
yang masih santer suaranya di media sosial.
Blue Lagoon,
salah satu atraksi wisata tirta yang menawarkan kolam sedalam 3 meter dan
aliran sungai dari mata air yang masih alami. Bagi yang tidak bisa berenang
jangan takut tenggelam dengan dalamnya kolam ini. Pihak pengelola menyediakan
persewaan ban dan pelampung bagi yang menginginkan. Biar tidak ketinggalan
untuk tetap eksis, pihak pengelola juga menjual pelindung hp kedap air. Percaya
saja, pengunjung dan wisatawan yang datang pasti tidak ingin melewatkan momen yang menarik untuk diunggah ke media
sosial. Karena selain berenang, pengunjung juga bisa melompat dari pohon yang
berada persis diatas kolam sehingga bisa langsung terjun kedalam kolam yang
airnya sangat segar dan dingin.
Lapar dan
kedinginan setelah berenang? Jangan takut, tersedia angkringan gratis dengan
menukarkan kartu tanda masuk yang dibayarkan di depan seharga 10 ribu rupiah.
Segelas teh hangat atau susu nantinya bisa kita dapatkan, jika tidak ada nasi
kucing atau sekedar gorengan yang masih hangat. Berbicara tanda masuk yang
seharga 10 ribu rupiah, pengunjung dan wisatan tidak perlu lagi membayar
parkir. Karena itu semua all in, tiket tanda masuk atraksi, angkringan, dan
parkir. Pas banget buat kamu yang suka menggerutu kalau berpergian masih harus
bayar parkir tiap kali singgah di suatu tempat.
Berbicara
sedikit mengenai manajemen kepengelolaan daya tarik wisata di Blue Lagoon.
Cukup menarik setelah mengetahui objek daya tarik wisata ini dikomandoi hanya
oleh seorang inisiator. Bukan meragukan, akan tetapi kehebatan ketua pengelola
untuk menarik minat warganya untuk bersama membangun objek wisata ini patut
diacungi jempol. Ditengah konflik kepetingan yang bisa muncul, pihak pengelola
bisa merangkul segala elemen masyarakat untuk bersama menikmati keuntungan yang
selama ini didapat akibat adanya aktifitas pariwisata ditempat tersebut.
Meskipun banyak yang ngeyel, dan hanya mau berpartisipasi ketika sedang ramenya
saja pihak pengelola tidak menyerah untuk terus mengembangkan objek wisata ini.
Kehadiran pemerintah sebagai mitra yang kurang dirasakan karena hanya memberi
bantuan ketika objek ini sudah besar saja bukan menjadi sebuah halangan yang
besar bagi pihak pengelola. Wisatawan yang datang dan para pihak ketiga yang
peduli akan aktifitas parwisata yang berbasis masyarakat sudah menjadi dukungan
yang berarti bagi keberlangsungan atraksi ini.
Blue Lagoon
memang besar karena media sosial. Viralnya di media sosial bukan lagi sebuah
hal yang bisa diragukan. Puluhan foto sudah menghiasi timeline sosial media,
baik instagram maupun facebook. Puluhan influencer
masa kini berlomba-lomba untuk memamerkan fotonya yang instgramable demi meraih
popularitas dan mempengaruhi banyak orang mengikuti jejaknya. Tidak salah
memang, promosi secara cuma-cuma dan masif menjadi sebuah keuntungan. Akan
tetapi bukan berarti masyarakat awam bisa ditipu. Puluhan foto menggambarkan
keadaan yang tak serupa. Bukan ketenaran yang akan didapat, akan tetapi rasa
kecewa dari pengunjung dan wisatawan yang mengikuti jejakmu. Akan tetapi,
segarnya air sungai dan sensai kembali merasakan kesenangan bermain-main di
sungai menjadi pelipur lara. Sebuah sensasi kembali ke alam setelah penatnya
kesibukan dan kehidupan urban perkotaan.
Komentar
Posting Komentar