Sebuah Malam di Kuta
Dingin, hanya dingin yang kurasakan
malam itu. Dentuman musik yang memekikkan telinga, aroma alkohol yang memenuhi
ruangan, dan senyuman palsu yang selalu
tergmbar diwajahku. Entah mengapa aku ingin mengakhiri semuanya pada saat itu
juga. Aku lelah, bertingkah seakan aku tak peduli dan selalu mendukungnya. Tapi
tidak untuk malam itu, semua harus berakhir malam itu juga.
Lagi, di pagi itu. Sebuah momen yang
sama selalu terjadi di setiap paginya. Dia datang dengan senyum merekahnya,
mengisyaratkan paginya dan hari-harinya penuh dengan kebahagiaan. Tapi tidak
untukku, masih terlihat rona merah keunguan di pipi kanannya. Mata sembab yang
ditutupi dengan kacamata bak artis yang selalu heboh dengan gaya busananya. Tas
punggung dan sebuah tas selempang membuat sebuah variasi di pagi itu. Aku tahu
kami akan meninggalkan Jogja untuk beberapa hari, dan betapa antusiasnya dia
untuk menunggu hari itu. Tapi mengapa dia selalu saja mengulangi setiap insiden
yang sama di setiap harinya. Bahkan di hari yang ditunggunya dalam beberapa
minggu, harus dimulai dengan sebuah tangis di malam sebelumnya. Tak lelah kah
dia dengan segala drama yang harus ia jalani? Sebuah topeng yang berbeda untuk
tiap harinya?. Aku mulai bosan melihatnya seperti itu tiap harinya, tapi aku
bisa apa. Aku bukan siapa siapa.
Mataku
serasa tak bisa menahan kantuk lagi, asam lambung yang semakin naik mebuat pagi
itu serasa neraka. Bagaimana tidak, perjalanan kereta hampir 12 jam tanpa
makanan yang membuat perut kenyang, semburan dari pendingin udara yang sangat
kencang, dan tanpa tidur sama sekali. “ Ubung, Ubung “, teriak sang kernet
sekaligus menyadarkanku dari kantuk. Riuh terminal pagi itu sangat berbeda dari
Jogja, aroma dupa, sesaji dan pura-pura kecil di tiap halaman rumah membuatku
sangat bersemangat. Kami keluar dan berjalan menjauh dari terminal, ingatku
dari beberapa artikel di internet kalau mencari angkutan jangan dekat dengan
terminal karena bisa ketok dan tidak ramah terhadap pengguna jasa transportasi
online. Benar saja, cerita-cerita dari driver
uber pagi itu seakan mengamini apa yang dituliskan di beberapa artikel dan
cerita di internet. Kami berhenti di sebuah bangunan bertingkat bercatkan ungu,
sebuah mobil ala salah satu film animasi terkenal menghiasi halaman depan
bangunan tersebut. Kunci kami dapatkan, dan akupun terlelap di kasur di kamar
hotel itu hingga suara hujan di sore itu membangunkanku.
Aku melihatnya lagi, tetesan air mata penuh dengan pilu.
Mengisyaratkan luka yang mendalam, tak ada suara maupun raut muka. Hanya ada air
mata dan tatapan yang hampa memandang kelangit kelabu sore itu. Sedangkan aku,
hanya bisa terdiam membatu, tak ada pelukan hangat untuk merangkulnya, tak ada
kata yang terucap untuk membuatnya bahagia. Ketukan pintu memecahkan keheningan
itu, seakan tak terjadi apa-apa dia bercanda dengan lepasnya. Kami bertiga
beranjak, menyelah motor memecah rintik hujan untuk berkeliling di Kuta malam
itu. Jalanan yang tak lebih lebar dari 3 meter, wisatawan-wisatawan asing yang
berjalan sepanjang jalan, dan dentuman musik yang mulai menghiasi malam itu
membuat kami seakan terpukau. Sebuah gambaran yang berbeda dari Yogyakarta
dengan Maliobronya atau Prawirotaman sebagai pusat wisatawanya. Jajaran
toko-toko dengan bermacam brand-nya, dan kafe-kafe dengan berbagai macam
penampilanya. Jelas aku merasa bukan seperti lagi di Jogja.
Hari yang
lain, pasir putih menghampar luas,dan sengatan matahari begitu terasanya
menyengat kulit. Pantai dibalik bukit dengan jajaran ukiran tokoh pewayangan di
sepanjang jalanya. Aku seakan tertarik dengan hal lain, hampir semua diatas
bukitnya sudah dipenuhi tiang-tiang pancang dari beton, bahkan beberapa diantaranya
sudah memiliki bentuk yang jelas akan menjadi sebuah gedung bertingkat. Hotel
atau resort eksklusif dengan harga yang mencekik tentunya. Dia menepuk
kepalaku, mengatakan aku masih saja memikirkan hal-hal kritis ditengah liburan
ini. Aku seakan terpelatuk, namun rasanya kuingin menunjukkan sebuah kaca
untuknya. Akan tetapi, aku tidak ingin mewarnai hari itu dengan sebuah
keributan.
Ombak-ombak itu mengisyaratkanku untuk turut berenang disana,
airnya yang biru bak bersambut. Tapi, aku mengurungkan niatan itu. Aku
berbahagia dengan melihatnya menikmati hari itu, seakan beban-beban yang tak
selalu ia pendam sendirian hilang begitu saja. Senyumannya di siang itu terasa
sangat hangat, dipenuhi dengan kebahagian tanpa ada sesuatu yang
disembunyikanya. Senyuman itu yang selalu kulihat dulu, sebelum topeng-topeng
menghiasi wajahnya di setiap pagi.
Malam itu,
dentuman musik menghiasi malam terakhir kami di Bali. Ajakan seorang teman tak
bisa dihindarkan. Katanya, sekali-kali masuk ke club malam tidak apa mumpung lagi
di Bali. Aroma alkohol yang sangat kuat menghiasi ruangan itu, puluhan kaca
menghiasi interior bagian dalam bangunan itu. Elegan dan sangat menakjubkan
pikirku. Sebuah gelas berisi soda dengan hiasan buah di pinggirnya terhidangkan
didepanku. Aku dan Jey memilih sebuah bangku di salah satu sudut. Kami berdua
hanya melihat kerumunan orang-orang itu, yang mulai berdansa ditengah alunan
musik yang mulai memecahkan keheningan malam. Tapi aku, sedikit mulai kesal
melihat seorang perempuan dan laki-laki menari diantara kerumunan itu.
Perempuan itu yang selalu menebarkan senyumanya kepadaku tiap pagi, dan dia
yang selalu menangis di pundak ini di malam harinya. Sedangkan laki-laki itu
yang selalu membebani pikiranya,yang selalu mewarnai merah pipinya dan goresan-goresan
di tanganya. Aku tahu laki-laki itu kekasihnya, dan Aku dan Jey sangat
mengenalnya dengan dekat. Aku tak menyangka kalau laki-laki itu menyusul kami
ke Bali. Jey seakan paham dengan raut muka kesal yang kutunjukkan, dan Jey
seakan merasakan hal yang sama.
Malam semakin malam, dan musik semakin keras dengan irama
yang semakin cepat. Canggung mewarnai obrolan malam itu, sebuah pertengkaran
kecil kembali diantaranya dan kekasihnya. Sepele memang, kondisi mabuk dan
dengan nafsu ingin tetap kembali berdansa bersama teman-teman wanitanya yang
entah darimana datangnya. Kami memang kenal dengan wanita-wanita itu, dua adik
tingkat, dan 1 orang lagi teman seangkatan kami juga. Kami tahu sudah ada
sebuah perselingkuhan dibalik hubungan Rin dengan kekasihnya. Tapi ketika Rin
ingin memutus hubungan itu, hanya ada tamparan yang mewarnai perdebatan itu.
Tuduhan balik selalu kekasihnya lontarkan kepada Rin.
Aku yang akan selalu menjadi pelarian Rin ketika perdebatan
itu terjadi, dia akan selalu menemuiku di setiap malam ketika itu terjadi. Aku
seakan sudah paham apa yang terjadi. Kata-kata yang sama selalu kuucapkan
ketika ia datang, “ Sudahi saja semua ini, kamu pantas mendapatkan sesorang
yang lebih baik ”. Tapi Rin selalu saja hanya mengiyakan, tapi ia selalu saja
kembali lagi dan lagi ke lelaki itu. Jey pun sudah jengah dengan kelakuan Rin
yang selalu menomorsatukan lelaki itu, dan mengsampingkan apa yang lelaki itu
perbuat selama ini. Aku yang selama ini diam dan memendam semua yang kuutarakan
kepada Rin selama ini seakan ingin meledak. Ingin kusudahi saja semua drama
bahwa aku selalu medukungnya dan dia yang selalu baik-baik saja. Aku tahu, aku
sudah memendam rasa itu sejak lama. Tapi aku, cuman seorang pengecut yang hanya
mampu memendam rasanya. Aku yang hanya selalu akan menjadi lelaki baik di kisah
drama yang selama ini Rin perankan. Akulah yang akan selalu melihat drama yang
dimainkan Rin di keseharianya, aku yang akan selalu melihat kehidupan di balik
panggung drama Rin.
Malam itu
semakin malam, aroma rokok dan alkohol semakin membuat ruangan itu terasa
sesak. Aku keluar berusaha menghirup udara segar. Jey mengikutiku dari
belakang. Kami beranjak pergi dengan motor kami dari tempat itu. Aku mendengar
kalau Rin akan tetap tinggal di Bali untuk beberapa hari lagi bersama
kekasihnya. Perkataan Jey malam itu seakan membuatku semakin gundah, “ Sampai
kapan kamu mau dijadikan pelarian ?,mesakno
awakmu lan pikiranmu kui ”. Aku terdiam dan hanya menghela nafas, aku sadar
akan peranku. Aku hanya akan selalu menjadi tempatnya berlari dari segala
kenyataan, aku hanya akan selalu dijadikan tempatnya berkeluh kesah, dan selalu
menjadi sandaran ketika ia menangis. Tetapi ketika ia bahagia? Ia akan lari ke
lelaki yang selalu ia puja. Jey paham dengan keheningan itu
Motor kami terus melaju, malam itu semakin dingin. Hembusan
angin di pinggir pantai menghiasi perjalanan terakhir kami malam itu. Musik
yang berdentum di Kuta malam itu semakin sayup terdengar. Kami semakin menjauh,
meninggalkan segala ketidak mampuanku untuk membuat keputusan dan mengakhiri
segalanya.
Tumpukan baju dan bungkusan harus segara kami masukkan ke
koper. Tak terlihat lagi tas dan koper milik Rin. Kami bergegas menuju
bandara, antrian panjang sudah menuju
counter check-in salah satu maskapai pagi itu. Sebuah pesan masuk menghiasi
layar ponselku ditengah keramaian bandara kala itu. “ Maaf! “ kata yang tertera
di pesan itu. Jey merebut ponselku dan segera menghapusnya. Aku menatap Jey
tajam, “ Apa? Kalau lagi susah aja baru inget teman, kalau lagi sama pacare awakdewe ratau dianggep dadi konco
” ucap Jey sambil mengulurkan ponselku. Aku tahu kemarahan Jey, bagaimana Rin
pergi dan mengambil barang-barangnya pagi itu dan tanpa berucap sepatah
katapun. Aku yang membukakan pintu kamar hotel miliknya, karena kunci selalu
kami yang pegang. Rin benar-benar tak mengatakan sepatah katapun malam itu,
hanya kekasihnya yang berusaha berbicara ramah kepadaku karena kami teman satu
geng di kampus. Pesawat kami terbang meninggalkan pulau itu bersama Rin yang
tertinggal disana. Keputusan Jey sudah bulat, tak ingin lagi berkomunikasi
dengan Rin dan Kekasihnya. Sedangkan aku, tergantung diantara masih ingin
menjadi yang menghiasi hatinya Rin atau mengalah karena merasa selama ini hanya
aku yang selalu tersakiti.
Komentar
Posting Komentar